Selasa, 11 Juli 2017

Mudik yang menyenangkan

Assalamu'alaikum wr.wb

Sekarang aku ingin menceritakan pengalamanku mudik di tahun 2017. Setelah 2 tahun tidak mudik karena keterbatasan biaya, jadi aku memulainya di tahun ini saja. Sudah tidak sabar rasanya menanti sepupu-sepupuku di kampung. Pasti mereka sudah besar dan mengerti banyak hal sepertiku.

Pada tanggal 22 Juni 2017 sesudah Isya, aku memulai perjalanan dari Kota Bogor menuju kampung halamanku di Kabupaten Musi Rawas tepatnya di Desa Embacang Baru. Kampung ini sebenarnya cukup jauh dari ibukota Sumatera Selatan, Palembang walaupun masih dalam satu provinsi. Kampungku cukup strategis dekat perbatasan Jambi maupun perbatasan dengan Bengkulu.

Perjalanan cukup jauh tetapi tetap saja memanjakan mata dengan pemandangan Pulau Sumatera yang masih alami dan Pulau Jawa yang terlihat sedikit kontras dengan kemajuan yang semakin pesat. Tidak lama lagi Pulau Sumatera akan menjadi Pulau termaju di Indonesia setelah Pulau Jawa setelah adanya jalan tol Trans Sumatera yang sedang gencar-gencarnya dibangun.

"Sekarang Jalan Tol Trans Sumatera sudah banyak dibangun terutama di Sumatera Utara, Sumatera Selatan, dan Lampung. Provinsi lain akan menyusul. Pastinya Sumatera akan berkembang cepat karena lebih mudah diatur dengan penduduk yang masih sedikit dan terbuka dengan kemajuan teknologi."

Perjalananku melalui tol langsung dari Bogor hingga Merak, Banten. Terjadi kemacetan yang panjang di Merak hingga berpuluh-puluh kilometer. Akan tetapi, sekarang sudah berbeda. Banyak polisi yang turun langsung ke lapangan demi kelancaran arus mudik di Jalan Tol Merak hingga Pelabuhan Merak. Ternyata saat itu tepat sekali pada puncak arus mudik. Aku terkena macet jam 10 malam dan baru naik kapal jam setengah 4 pagi tanggal 23 Juni 2017. Akupun sahur di mobil dengan makanan yang sudah dipersiapkan dari rumah.


Sampailah di Pelabuhan Bakauheni jam 7 pagi. Perjalananku di sepanjang Jalan Lintas Sumatera dimulai. Berhubung jalan tolnya belum bisa dibuka dan jalan tol yang ada dan buka juga masih kurang strategis, aku tetap melaju dengan kencang di jalan lintas seperti biasanya. Jalanan tergolong mulus dan sedikit lubang (tetapi cukup dalam).

 
Aku mengisi waktu di kapal dengan tidur dalam waktu yang cukup lama ditemani AC yang sangat dingin walaupun sumpek yah.

 
Pelabuhan Bakauheni. Pemandangannya sangat indah ditemani kapal yang terlihat mewah menandakan kemajuan perkapalan Indonesia.

 
NICE, inilah jalan tol yang Wong Sumatera (khususnya Lampung karena foto ini ada di lampung) tunggu-tunggu setelah 72 tahun tidak pernah menikmati jalan bebas hambatan atau Highway.

Ciri khas Pulau Sumatera yang aku dapatkan :

1. Perlu diketahui, bis bis di Sumatera melaju lebih kencang dibanding di Jawa karena jalanan yang sepi dan mulus-lus-lus bagaikan Jalan Tol Jagorawi.
2. Selain itu, banyak sekali hal-hal tak terduga yang bisa membuat jalanan itu macet (seharusnya sih sepi) seperti pasar tumpah, jalanan rusak, jalanan sedikit longsor, kecelakaan, mogok, dll. Kalau jalanan menyempit sih Sumatera hampir jarang.
3. Pemandangannya tidak melulu pemukiman dengan segala usaha di pemukiman itu. Tetapi, setiap kampung pasti jaraknya jauh-jauh terpisah dengan hutan, persawahan, dan perkebunan yang melegakan mata. Jika difoto, sangat keren.
4. Kebersihan jalan dan ketertiban pengendara seperti Indonesia pada umumnya (tidak ada yang berbeda). Bahkan, lebih parahnya lagi, jarang terlihat pengendara yang menggunakan helm dan banyak pengendara yang berkendara di tengah jalan yang menyulitkan mobil-mobil dan truk melaju. Untuk kebersihan jalan cukup baik karena sepi dan fasilitasnya cukup buruk sehingga perlu ditingkatkan lagi. Terutama di pom bensin yang sering digunakan untuk istirahat.

 
Ini adalah kebun karet di dekat kampungku, bukan di area jalan lintas Sumatera sebenarnya, ini masih di area jalan kampung. Jalan kampung kualitasnya sama saja dengan jalan lintas.

 
Ini adalah pegunungan yang aku lihat saat di Jalan Lintas Sumatera menuju Kota Lubuk Linggau. Wajar saja kalau itu pemandangan daerah Bengkulu karena kalau di peta, jaraknya cukup dekat dengan Provinsi Bengkulu, tepatnya Kota Curup. (kayaknya sih udah masuk area Bengkulu)

 
Ini pemandangan yang sama dengan foto yang diatas tadi, cuma angle yang aku ambil sangat bagus dengan campuran antara pemandangan pegunungan dan lahan sawit, lahan karet, dan hutan-hutan. Sepi kan? Pemukiman saja tidak terlihat karena diantara hutan-hutan gitu.

 
Kalau ini pemandangan pohon karet lagi, tapi ini aku lihatnya saat aku melewati Jalan lintas Timur arah Kota Palembang. Lahan ini berada di Kabupaten Banyuasin. Lebih rapih manakah jika dibanding dengan Lahan Karet kampungku (foto yang diatas tadi)?

 
Foto ini aku ambil saat perjalanan balik ke Bogor. Tepatnya ini di Provinsi Lampung dekat Bakauheni (saat aku melewati Jalan Lintas Pantai Timur Lampung).

 
Sama seperti foto di atas, ini masih di area yang sama. Sepertinya ini semak-semak hijau saja.

 
    Mulai deh masuk ke area pemukiman beserta ruko-ruko yang khas di Sumatera yang monoton. Ini sudah dekat pelabuhan Bakauheni.


Tanggal 24 Juni pun aku sampai di kampung. Bertemu dengan sepupu yang sudah berubah jauh berbeda dengan tahun 2015 yang lalu. Suasana kampung tidak berubah, hanya saja sungai makin mengering. Aku tidak pernah mandi di sungai lagi. Aku juga berlebaran seperti biasanya keliling sampai Batu Gajah bertemu saudara. Tidak hanya itu, aku juga mengisi waktu dengan sepupuku jalan-jalan menuju Kota Lubuk Linggau untuk memenuhi rasa penasaranku akan tempat wisata yang sedang nge-hitz akhir akhir ini. 

Aku pergi ke Pasar Lubuk Linggau, Masjid Raya Lubuk Linggau, Lippo Plaza Lubuk Linggau, hingga Air Terjun Temam pada hari kedua lebaran (kalau tidak salah). Masjid Raya sudah sangat unik dan makin cantik dengan kebun kurma dan pintu masuk bak menuju istana kerajaan (hahaha). Aku tidak memasuki masjid tersebut, jadi hanya bisa berfoto dari luar. Karena panas, alhasil foto yang ku ambil gelappp....
 
Gelappppp.... Sumatera panas sekalihhh

Udah agak terang fotonya, tapi menaranya tidak kelihatan :(

 
Serasa di pintu masuk istana kerajaan. Di dalam ada kebun kurma menanti pengunjung yang ingin berwisata religi. Saat itu sedang sepi. Maklum, masih suasana lebaran H+2

 
Menaranya keceee, aku suka lihatnya. Kalau dilihat, kayak ada liftnya deh.

Kemudian, di dekatnya ada restoran pinggir jalan. Aku makan mie ayam yang---- ternyataaa mau ngambil air putih aja pakai dispenser (kerennn....).

Dengan Aplikasi Waze-ku, aku mencari letak Lippo Plaza yang belum lama diresmikan. Lippo Plaza Lubuk Linggau ternyata lebih besar dari pada di kotaku, Kota Bogor. Banyak tempat-tempat yang Instagrammable kayak di mall Bekasi mana gitu (pernah lihat).

 
Belanja dulu yuk di Hypermart. Ada yang unik loh disini, Penanda lorong disini dibuat miring gitu.

 
Welcome to LIPPO PLAZA Lubuk Linggau. Ayeeayy !!

Foto dengan sepupuku.........Mallnya udah kayak di Jakarta belum sih? Hehe

 
Wah, aku ingin menanjak ke tebing itu, masih jauhlah ya dari sini.


Terus, aku melanjutkan perjalanan lagi ke Air Terjun Temam. Ternyata, harga tiketnya sangat murah (beda dengan yang tertera di internet) dan tempatnya benar-benar alami walaupun secara penataannya masih kurang baik sehingga perlu adanya perawatan fasilitas lagi. Tidak sia-sia aku berfoto dengan pemandangan yang indah. Udara yang sejuk dan cuaca yang bersahabat menemaniku mendapatkan foto yang pas dari sudut manapun juga. Tongsis ku ambil dan cekrek-cekrek. Inilah hasilnya :
 
Selamat datang di "KAWASAN WISATA ALAM AIR TERJUN TEMAM"

 
Wah, seger-seger gitu lihatnya. Dingin sekali rasanya saat berada di dekatnya.




Pemandangannya sih agak monoton ya, tapi alami banget. Sayangnya, taman-tamannya agak kotor dan ramai banget. Tangganya juga licin. Semoga pemerintah Kota memperhatikan tempat wisatanya. Murah boleh, tapi kualitas harus tetap OKE.

Tidak berlama-lama disana, akhirnya aku langsung makan siang di RM Padang. Nasi dan lauk pauknya sebanyak yang aku pernah makan di RM Arab di Singapore. Hahah. Untungnya sih gak kekenyangan yaa (karena aku memberikan ke papaku juga sedikit).

Hujan-hujan membuat suasana kota dingin dan mendadak basah setelah beberapa hari tidak hujan. Setelah itu, aku pulang dengan rasa ngantuk dan tertidurlah aku di mobil.

---------------

Lusa aku jalan-jalan lagi. Tapi jaraknya tidak sejauh Air Terjun Temam. Masih dekat dengan Jalan Lintas Sumatera arah kampungku. Yaitu "BUKIT SULAP". Apa sih Bukit Sulap itu?
Gak ada sejarah yang tertera disana sih. Mungkin banyak pesulap kali dulunya (MUNGKIN.....)

Jalanan aspal bermarka putih aku lewati. Mulus, sunyi, tapi setelah sampai...... Ramai juga ternyata. Tapi kali ini tempatnya lebih bersihlah.... Kenapa aku mau kesana juga? Aku penasaran banget sama Kereta Miringnya yang bernama Inclinator. Hanya satu-satunya kereta miring di Indonesia untuk mencapai puncaknya. Setelah melihatnya, apa yang terjadi?

Awal aku melihatnya "Wah, bagus banget nih bukit sulap. Rapih, bersih, tertata lagi." Naik tangga terus, pemandangannya gak kalah sama luar negeri. Tapi, pas di dekat kereta ternyata keretanya tidak berfungsi. Aku merasa tertipu dengan adanya ini. 2016 memang sih awal-awal berfungsi. Lama-kelamaan kayak gak terawat gitu tempat tunggu dan kamar mandinya. Tapi emang ramai sih orang-orang berfoto dekat rel kereta. Ternyata di sebelah rel, ada anak tangga untuk memanjat. Tapi, butuh 1 jam untuk memanjat bukit sulap...... HADEH.....

Sama aja kayak Air Terjun Temam. Bagus di pemandangannya ajaaa. Fasilitasnya perlu dibenahi. Jangan hanya bisa membangun, tapi tidak bisa merawatnya. Contohilah dari Lembang, Malang, dan Bogor yang sudah biasa menjaga tempat wisatanya sehingga tetap terkenal dan kualitas OKE.

 
Eksotis juga kannn?

 
Naik tangga lagi, view Kota Lubuklinggau terlihat 180 derajar

 
Tempat santai-santai kayak di pantai.

 
Rel kereta yang aku bilang, keretanya ge juga udah gak ada kayaknya. Sebelah kirinya itu tangga untuk nanjak. Tapi gak ada penghubung ke tanjakannya. Bingunglah aku jadinya :(

Karena udah panas dan ada hajatan di malam hari, aku langsung pulang saja. Tidak kemana-mana lagi. Apalagi besoknya udah harus ke Kota Palembang untuk mengambil pempek, tekwan, dll untuk oleh-oleh. Alhasil aku di Palembang cuma sebentar karena papa dan kakakku harus kerja lusanya....

Alhamdulillah perjalanan balik lancar dan hanya menghabiskan waktu 18 jam saja (karena Kota Palembang ke Jakarta lebih dekat dan jalanannya lurus mulus tanpa hambatan).